Wanita memiliki kedudukan yang sangat
tinggi di dalam al-Quran. Tidak pernah ditemukan di dalamnya ungkapan yang
mengatakan bahwa ia sebagai petunjuk bagi kaum pria saja, karena al-Quran
adalah petunjuk untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ketika al-Quran
menjelaskan tentang tujuan risalah Tuhan dan tujuan di turunkannya wahyu, Allah
Swt berfirman,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) Bulan Ramadhan, bulan
yang didalamnya di turunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia.”
Makna kata “manusia” dalam al-Quran
tidak terbatas pada jenis dan golongan manusia tertentu, namun ia mencakup
seluruh jenis manusia, baik pria maupun wanita. Semuanya sama.Sehubungan dengan
hak-hak wanita di dalam Islam, Allah Swt berfiman,
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai
(harta atau diri) wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan
mereka karena kamu hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu
berikan kepadanya. Kecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan
bergaulah dengan mereka secara makruf (patut, bersikap dan berucap yang
baik dan wajar kepadanya). Jika kamu tidak menyukai mereka, maka
bersabarlah. Karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah
menjadikan padannya (pada apa yang kamu tidak sukai itu atau pada diri
pasanganmu itu sifat-sifat lain yang merupakan) kebaikan yang banyak.”
Hak-hak wanita di dalam Islam
sebagian berhubungan dengan hukum waris, nikah, poligami, mas kawin dan
lain-lain. Berkenaan dengan topik yang kita bahas hari ini, sebagaimana yang
telah disebutkan oleh ayat di atas, maka yang harus kita bawahi disini adalah
perintah Allah kepada kita semua agar memperlakukan wanita selayaknya. “Dan
bergaulah dengan mereka secara patut”. Memperlakukan wanita dengan cara
yang baik atau patut adalah tidak hanya dalam masalah-masalah keluarga saja,
tidak seperti yang digambarkan oleh sikap fanatisme jahiliyah yang menolak
wanita bekerja ataupun terjun beraktivitas di tengah masyarakat.
Kemudian ayat di atas menekankan
bahwa, “Jika kamu tidak menyukai mereka”, yakni jika kalian tidak senang
kalau para wanita memiliki kedudukan yang sama dengan kalian, karena mereka
terjun beraktivitas ditengah masyarakat, baik terjun di medan perang, menekuni
bidang kedokteran dan pendidikan, maka tahanlah dan terimalah hal tersebut.
Karena boeh jadi ada hikmah dan banyak kebaikan yang tidak kalian ketahui di
balik itu semua.
Di riwayatkan dari al-Baihaqi bahwa
suatu ketika Nabi Muhammad saw sedang duduk bersama sahabatnya, lalu datang
seorang wanita dan berkata,
“Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya
aku adalah seorang wakil dari kaum wanita yang datang kepadamu. Ketahuilah,
bahwa diriku adalah tebusan untukmu. Tidak ada wanita yang tinggal di belahan
timur atau belahan barat yang mendengarkan perkataanku ini kecuali dia pasti
sependapat denganku. Sesungguhnya Allah telah mengutusmu dengan kebenaran
kepada kaum pria dan wanita, dan kami pun beriman kepadamu dan kepada Tuhan
yang mengutusmu. Namun kami kaum wanita di batasi dan diperlakukan secara
paksa. Kami adalah landasan rumah kalian (kaum lelaki), tempat untuk pemuas
syahwat kalian dan yang mengandung anak-anak kalian. Sementara kalian, wahai
kaum pria telah di utamakan daripada kami dengan shalat Jumat, shalat
berjamaah, mengunjungi orang sakit, mengantarkan jenazah, melakukan beberapa
kali haji dan sesuatu yang lebih utama dari itu adalah jihad di jalan Allah.
Jika salah seorang pria dari kalian keluar untuk melakukan haji, umrah atau
berjihad, maka kamilah yang menjaga harta kalian, kami yang memintal baju
kalian dan kami yang menyimpan harta kalian. Wahai Rasulullah, maka dengan apa
kami memperoleh pahala seperti kalian?”
Mendengar perkataan wanita itu Nabi
Muhammad Saw menolehkan wajahnya kepada sahabatnya dan berkata, “Apakah kalian
pernah mendengar pertanyaan seorang wanita tentang masalah agamanya yang lebih
baik dari pertanyaan wanita ini?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah,
kami tidak menyangka wanita telah memperoleh petunjuk hingga sampai seperti
itu.”
Rasuullah Saw kemudian berkata kepada
wanita tersebut, “Wahai wanita, kembali dan beritahu seluruh wanita yang berada
di belakangmu, bahwa memperlakukan suami dengan baik, meminta ridhonya, dan
menuruti segala apa yang di iyakannya adalah sama dengan pahala itu semua.”
Lalu wanita itu keluar sambal mengucapkan kalimat tahlil dan takbir karena
merasa senang dengan jawaban Rasulullah Saw tersebut.
Dalam sisi kemanusiaan, seorang
wanita juga memiliki kekuatan dan keutamaan tersendiri. Jangan sampai kita
meremehkan pekerjaan seorang wanita, karena tanpanya kita tidak akan bisa
melihat dunia ini. Sebab kita terlahir dari seorang wanita yang memiliki perjuangan
yang sangat besar ketika kita akan hadir di dunia ini. Bentuk kasih sayang
seorang wanita melebihi dari menyayangi diri sendiri. Maka dari itu, jangan
sampai sedikitpun kita memperlakukan wanita dengan perlakuan yang buruk.
Jika kita lihat seorang wanita yang
di kenal dengan pahlawan nasional dalam memperjuangkan emansipasi wanita kala
hidupnya. Ia berusaha memajukan perempuan pribumi sebab dalam pikirannya
kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang
cukup rendah di masa itu. Dengan segala kegigihannya, ia berhasil memajukan
wanita-wanita pribumi pada masanya. Ia adalah seorang Kartini yang memiliki
jiwa dan pengorbanan yang begitu agung.
Ini salah satu contoh bahwa seorang
wanita bukanlah orang yang lemah dan tak berdaya, akan tetapi perjuangan
seorang wanita juga sangat besar dalam kehidupan. Contoh, jika seorang
laki-laki tidak memiliki seorang istri, apa yang terjadi? Mereka akan mengalami
hidup yang kurang nyaman, hidupnya pun susah. Meskipun wanita hanya seorang ibu
rumah tangga, tapi jiwa-jiwa yang di milikinya melebihi jiwa seorang pria.
Mereka selalu bersabar dalam mengurus anak-anaknya, mengurus istrinya, mengurus
rumah dan lain sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar