Banyak terjadi
perselisihan diantara para ulama, fukaha ataupun para ilmuan yang lainnya bahwa
Al Quran kitab suci Allah Swt terdapat tahrif.
Tahrif sendiri adalah pengurangan
atau penambahan dari bentuk aslinya, dan sebagian besar ulama ahlusunnah mendebatkan
masalah ini. Bahkan mayoritas berkeyakinan dengan adanya tahrif Al Quran.
Coba kita renungi lagi
dan fikir lebih dalam lagi, apa itu Al Quran, apa yang terkandung di dalamnya, apa
makna dan bacaan-bacaan yang ada? Semua ini adalah pertanyaan besar bagi kita
semua. Setelah adanya pertanyaan mendasar ini kita mulai berfikir dan mencari
jawaban, dan kemudian pun kita saling berpendapat. Kita tahu bahwa Al Quran
adalah kitab suci Allah Swt yang di turunkan kepada Rasul Muhammad Saw kekasih-Nya.
Isi dari makna, ayat di dalamnya adalah sebuah hukum-hukum, catatan sejarah,
akidah tentang Tuhan dan yang lain sebagainya.
Kitab tersebut bukanlah
karangan atau karya Muhammad Saw, kitab tersebut bukanlah kita yang bisa di buat
oleh manusia sebagaimana firman Allah yang tercantum dalam kitab-Nya itu,
ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺳُﻮَﺭٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻣُﻔْﺘَﺮَﻳَﺎﺕٍ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ﴿١٣﴾ﻓَﺈِﻟَّﻢْ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﺑِﻌِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ۖ ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ
“Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat
al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat
yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup
(memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika
mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka
ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan
bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri
(kepada Allah)?” (Hud:13-14)
Sudah sangat jelas bahwa Allah Swt sendiri yang mengatakan
hal serupa bahwa Al Quran bukan di turunkan dari orang atau manusia itu sendiri.
Dan disini Allah Swt menegaskan lagi dengan menantang atau memerintahkan siapa
saja yang mampu mendatangkan, membuat, ataupun mengarang sebuah ayat yang sama
denganya. Dan lagi-lagi Allah Swt berfirman,
ﻭَﺇِﻥْ
ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ
ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ
﴿٢٣﴾
ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ
ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦ
“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang
Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang
semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu
orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu
tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan
bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang
kafir.” (Al-Baqarah: 23-24)
Sangat jelas juga
tantangan Allah Swt bagi siapa saja yang mengatakan Al Quran memiliki kekurangan.
Perlu di catat, Al Quran adalah salah satu mukjizat tersebesar yang mana kita
semua bisa merasakan adanya mukjizat tersebut hingga hari ini juga dan bahkan seterusnya.
Kita seringkali mendengar
dan membaca tentang mukjizat para Nabi terdahulu, seperti halnya tongkat Nabi Musa
As bisa menjadi ular besar dan memakan ular-ular kecil dari sang penyihir, Nabi
Isa as yang bisa membangkitkan dan menghidupkan kembali orang yang sudah
meninggal, dan masih banyak lainnya.
Lalu apakah dengan
mukjizat-mukjizat di atas kita menyaksikan langsung dan merasakan kehadiran hal
itu di mata kita?? Sangat jelas sekali hal itu tidak pernah kita jumpai langsung.
Lalu, coba sekarang
kita melihat dan saksikan langsung mukjizat Rasulullah Saw yang paling besar
dan ini adalah salah satu mukjizat yang tidak bisa di samakan dengan
mukjizat-mukjizat yang ada sebelumnya. Sampai saat ini, hari ini, dan detik ini
pun kita bisa menyaksikan langsung mukjizat teragung tersebut. Hingga akhir hayatpun
kita akan tetap bisa menyaksikannya.
Namun dengan
penjelasan ini juga sebagian dari kita masih belum puas, padahal semuanya sudah
jelas. Dan Allah Swt menegaskan lagi dalam kitab-Nya,
إِنَّا نَحْنُ
نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُون
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran,
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS.
Al-Hijr 9).
Ayat di atas mengajarkan dan menjelaskan kepada kita semua bahwa Allah
Swt menurunkan ayat-ayat suci Quran dan Allah sendirilah yang menjaga keutuhannya.
Ketika manusia berselisih dan menganggap bahwa Quran telah terjadi tahrif berarti
ia meragukan kesempurnaan Tuhannya sendiri. Sebenarnya ini logika kecil-kecilan
saja, ke arah mana kita melangkah yaitu lah fudhuliyyah manusia. Tentu
bukan sebuah alasan ketika kita bisa berpendapat berarti kita lebih sempurna
dari Tuhan. Hal ini benar-benar sebuah hinaan yang sangat besar terhadap Dzat
yang mengadakan kita dari ketiadaan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar